SEJARAH SOSIAL : MODEL-MODEL PENULISAN SEJARAH DAN IMPLEMENTASI PENULISAN SEJARAH DI INDONESIA
BAB VI MODEL-MODEL PENULISAN SEJARAH
Model Annales menjadi kiblat penulisan sejarah sosial di
dunia. Aliran Annales merupakan reaksi dua sejarawan Perancis Marc Bloch dan
Lucien Febvre atas stagnasi dalam historio Perancis yang didominasi sejarah
politik. Mereka berdua mendirikan jurnal annales
d`histoire economique et sociale dan mulai menampilkan tulisan sejarah “
yang lebih luas dan manusiawi” dalam upaya mengimbangi dominasi sejarah politik.
Kaum Annales berusaha membongkar berhala sejarawan antara lain berhala politik
yang melebih-lebihkan pentingnya peristiwa politik, berhala individu yang
berusaha menekankan pada oraang-orang besar, dan berhala kronologis yang
menyebabkan sejarawan terpelosok dalam perngkap narativme. Keberanian lain
aliran annales adalah mengkritik spesialisasi dalam sejarah. Bagi kaum Annales
spesialisasi merupakan bentuk hambatan dalam upaya memahami masyarakat manusia
secara paripurna. Tokoh-tokoh sejarawan besar aliran annales abtara lain kedua pelopornya,
Lucien Febvre dan Marc Bloch, serta penerus Annales pada masa pasca perang
dunia II, Fernand Braudel.
Model Marx adalah teori sekuensial (tahap) perkembangan
masyarakat yang dalam diistilahkan sebagi “formasi sosial”. Perkembangan ini
bergantung pada sistem ekonomi (diistilahkan sebagai cara atau modus produksi)
yang mengakibtkan timbulknya krisis, revolusi, serta perubahan yang
terputus-putus. Menurut Marx ada tiga tema penting yang menarik saat
mempelajari perubahan sosial dalam suatu masyarakt antara lain:
a. Perubahan sosial
menekankan pada kondisi materialistik berpusat pada perubahan-perubahan cara
atau teknik produksi material sebagai sumber perubahan sosial budaya.
b. Perubahan sosial utama
adalah kondisi-kondisi material dan cara-caraa produksi pada satu pihak,
sementara itu hubungan-hubungan sosial serta norma-norma kepemilikan berada
pada pihak lain
c. Dapat dinyatakan bahwa
manusia menciptakan sejarah materialnya sendiri, selama ini manusia berjuang
mengahadapi lingkungan materialnya dan terlibat dalam hubungan-hubungan sosial
yang terbatas dalam proses pembentukannya.
Model
Marx mencakup gagasan tentang tahapan bentuk-bentuk masyarakat. Urutan tahap pembentukan
masyarakat menurut Marx adalah masyarakat kesukuan, budak, feodal, kapitalis,
sosialis, dan akhirnya komunis. Model marx setidaknya menghadapi setidaknya
tiga kritikan utma:
1. Model
Marx mengakomodasi perubahan yang arahnya “keliru”.
2. Perubahan
sosial dalam kacamata marxis dipandng dari perspektif faktor endogen, namun
pada kenyataannya model ini memberi tempat bagi perubahan sosial dari
perspektif faktor eksogen.
3. Model
Marx jauh lebih memperhatikan mekanisme perubahan sosial, khusunya fase
transisi feodalisme menuju kapitalisme.
Emile Durkheim sebagai seorang
sosiolog menganut terori perubahan sosial bertahap. Ada dua tahap perubahan
sosial menurut durkheim yang dikenal dengan sebutan evolusionistik unilinier. Konsep
perubahan sosial Durkheim bertolak dari pembagian kerja atau division of labour. Menurut konsep ini,
proses pembagian kerja berkembang karena lebih banyak individu yang dapat
berinteraksi antara satu dengan yang lain. Hubungan aktif berasal dari “kepadatan
dinamis atau moral” masyarakat yang berinteraksi melalui dua sifat utama:
1. Kepadatan
yang bersifat demografis dan kepadatan yang bersifat teknis.
2. Kepadatan
yang bersifat teknis terjadi akibat meningkatnya alat-alat komunikasi dan
transportasi dengan cepat.
Pelopor penulisan sejarah sosial di
Indonesia adalah disertasi Sartono Kartodirdjo dengan Peasant’ Revolt of Banten in 1888. Its Conditions, Course, and Sequel. A
Case Study of Social Movement in Indonesia. Konsep perubahan sosial yang
ada di Indonesia pada awalnya mendasarkan pada hasil penelitian Furnivall yang
mengatakan bahwa Pulau Jawa merupakan daerah pertanian pengahsil padi yang
telah berlangsung selama berabad-abad. Hasil penelitian Furnivall disanggah
oleh Wertheim yang melandaskan penelitiannya pada sejarah dan sosiologi. Wertheim
memnadang Indonesia secara makro dari sisi kondisi struktur geografis, posisi
kependudukan, dan masyarakat dalm sistem dunia. Menurut sosiolog thamrin
tamagola, kajian masyarakat di indonesia secaraa umum dipengaruhi oleh dua
aliran pemikiran yang berbeda:
1. Kajian yang dipelopori D.J.M Tate (1973). Kajian ini mendasarkan
pada teori Marx
yang melihat bahwa perubahan masyarakat lebih disebabkan oleh faktor eksternal dan
meminimalisir faktor internalnya.
2. Kajian Van Leur (1955) yang berlandaskan pada teori
Durkheim dalam membaca perubahan sosial di Indonesia yaitu terjadinya dinamika perubahan
sosial di Indonesia lebih disebabkan karena faktor internal dari masyarakat
Indonesia sendiri, dan dalam batas – batas tertentu disebabkan oleh pengaruh luar.
Kritik
Sartono adalah karya Tate terlalu menyederhanakan masalah karena mengabaikan
faktor internal yang ada dalam masyarakat Indonesia. Sebab pada realitanya apa
yang terjadi dalam masyarakat adalah interaksi yang khas dan khusus pada masa
dan tempat tertentu. Sartono juga tidak semata – mata mengikuti pemikiran van
Leur yang mendasarkan pada teori Durkheim, melainkan Sartono menggunakan teori
Max Weber. Menurutnya tindakan yang dilakukan masyarakat harus mendasarkan pada
tindakan individu yang menjelma dalam sistem sosial masyarakat. Sartono menganjurkan
rapprochement atau proses saling mendekati antara ilmu sejarah dengan
ilmu-ilmu sosial lainnya karena hal ini menjadi suatu tuntutan dalam
historiografi.
BAB
VII IMPLEMENTASI PENULISAN SEJARAH SOSIAL DI INDONESIA
Penulisan
sejarah sosial di Indonesia dilakukan oleh sejarawan asing maupun oleh
sejarawan Indonesia sendiri. Penulisan sejarh sosial oleh ilmuwan asing dapat
kit gunakan sebagai “second opinion” dalam kita menganalisis fenomena
sosio-historis dalam perjalanan sejarah bangsa indonesia. Beberapa karya
sosiologi dapat dijadikan referensi dalam mengamati gejala dan fenomena sosial
yang terjadi dalam masyarakat Indonesia.
Berikut
adalah contoh karya penulisan sejarah oleh para sejarawan:
Karya
Sejarawan Asing
Denys
Lombard. Nusa Jawa: Silang Budaya. Kajian Sejarah Terpadu. Bagian I:
Batas Pembaratan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005.
Denys
Lombard. Nusa Jawa: Silang Budaya. Kajian Sejarah Terpadu. Bagian II:
Jaringan Asia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005.
Denys
Lombard. Nusa Jawa: Silang Budaya. Kajian Sejarah Terpadu. Bagian III:
Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005.
W.F.
Wertheim. Masyarakat Indonesia dalam Transisi, Studi Perubahan Sosial.
Yogyakarta, Tiara Wacana, 1999.
Karya
Sejarawan Indonesia
Kuntowijoyo.
Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura, 1950-1940. Yogyakarta:
Mata Bangsa, 2002.
Sartono
Kartodirdjo, Pemberontakan petani Banten 1888. Jakarta: Dunia Pustaka
Jaya, 1984.
Sartono
Kartodirdjo. Protest Movement in Rural Java: A study of Agrarian Unrest in
the Nineteenth and Early Twentieth Centuries. Singapore: Oxford University
Press, 1973.
Suhartono.
Apanage dan Bekel: Perubahan Sosial di Pedesaan Surakarta, 1830-1920.
Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991.
Wasino.
Modernisasi di Jantung Budaya Jawa. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2014.
v Sejarah
mikro merupakan peristiwa sejarah yang terjadi pada lingkup spasial yang sangat
kecil. Sejarah lokal dan sejarah pedesaan dapat dikategorikan didalamnya.
Karena ruang lingkupnya yang kecil maka seringkali sejarah mikro tidak mendapat
perhatian dan antusias dari sejarawan dan mahasiswa Ilmu Sejarah. Sejarah pedesaan
dapat dimasukkan ke dalam sejarah mikro. Karena secara spasial memiliki
batasan-batasan yang memenuhi syarat untuk disebut sebagai sejarah mikro. Beberapa
batasan-batasan yang memenuhi syarat untuk disebut “mikro” . Beberapa
permasalahan yang dapat diselidiki antara lain:
Komentar
Posting Komentar