RESENSI BUKU: LANDFORM DAN GERAKAN PROTES PETANI DI KLATEN 1959-1965


Judul               : Landform Dan Gerakan Protes Petani Di Klaten 1959-1965
Penulis             :Soegijanto Padmo
Penerbit           : Media Pressindo
Tempat Terbit  : Yogyakarta
Tahun Terbit    : Agustus,2000
Cetakan           : Pertama
Ukuran            : 14x21 cm
Jumlah Halaman: 180 Halaman
ISBN               : 979-9222-29-X
Daerah Kabupaten Klaten termasuk didalam wilayah karisidenan Surakarta. Batas Kabupaten Klaten di sebelah utara adalah Kabupaten Boyolali, sebelah barat Kabupaten Sleman dan sebelah selatan Kabupaten Gunung Kidul. Wilayah kabupaten Klaten di bagian barat laut, tanahnya mengandung pasir dan abu, sehingga cocok ditanami polowijo. Sedangkan di bagian selatan, tanahnya bersifat liat (grumusol) dan sebagian berupa tanah kapur. Sehingga pada musim hujan dapat ditanami dan pada musim kemarau ditanami polowijo.
Kabupaten Klaten dikenal sebagai gudang beras di Jawa Tengah. Kesuburannya ditunjukkan oleh keadaan tanah di bagian tengah sepanjang Yogya-Solo. Di tanah yang subur ini dapat ditanami dengan berbagai tanaman bahan makanan pokok dan juga tanaman bahan ekspor, misalnya tebu dan tembakau.
Stratifikasi sosial dalam masyarakat petani ditentukan oleh kepemilikan tanah. Karena tanah memiliki arti penting dalam masyarakat. Dalam masyarakat Klaten, stratifikasi sosial dapat digolongkan menjadi beberapa lapisan. Lapisan tertinggi disebut kuli kenceng yaitu seseorang yang memiliki sebidang tanah pekarangan dan sawah. Setingkat dibawahnya adalah kuli setengah kenceng yang hanya memiliki sebidang pekarangan saja. Setingkat di bawahnya lagi adalah kuli gundul, yaitu seseorang yang hanya memiliki sawah saja.
Dalam masyarakat Klaten sering terjadi mobilitas sosial. Mobilitas sosial yang sering tampak adalah mobilitas vertikal, yaitu perpindahan status seseorang dari yang rendah ke status sosial yang tinggi ataupun sebaliknya. Contohnya, seseorang yang berstatus pengidung dapat membeli sebidang tanah pekarangan, maka orang itu berubah statusnya menjadi kuli setengah kenceng. Contoh lain yaitu seorang petani meyewakan seluruh tanahnya, oleh penyewa tanah yang disewakn tanah itu boleh digarap oleh pemiliknya, maka status pemilik tanah kemudian turun statusnya menjadi penggarap.
Di antara bentuk-bentuk penguasaan tanah untuk sementara, lembaga bagi hasil adalah yang paling tua. Beberapa bentuk penguasaan tanah untuk semntara di daerah Klaten yang masih ada adalah lembaga persewaan dan nagi hasil sedangkan lebmbaga gadai sudah jarang dijumpai. Di dalam penguasaan tanah ini, sering terjadi pemerasan oleh pihak yang kuat ekonominya atas petani miskin. Sehingga pemerintah berusaha untuk menghilangkan penguasaan tanah untuk sementara ini yang dikenal dengan nama landform.
Dengan landform pemerintah berusaha meningkatkan taraf hidup petani. Cara yang ditempuh antara lain menciptakan keseimbangan di alam penguasaan tanah, mengusahakan agar produksi pertanian setinggi mungkin, serta di dlm pembagian hasil pertanian agar dilaksanakan dengan adil.
Pada tahun 1960-1965 di daerah klaten timbul gerakan petani. Pada awal tahun 1960-an penetangan yang duilakukan oleh petani lebih banyak ditujukan kepada pemerintah, sedangkan pada tahun 1964-1965 sasaran gerakan lebih banyak ditujukan kepada tuan tanah.  Para petani dalam melakukan aksinya dilakukan secara berkelompok. Alasan gerakan tersebut karena uang sewa yang terlalu rendah. Sebeluim melakukan gerakan, beberapa petani datang ke rumah tuan tanah untuk memaksakan keinginannya. Karena dengan melewati prosedur resmi kelompok petani tidak mungkin memperoleh persetujuan, maka mereka menempuh cara kekerasan, sehingga gerakan ini disebut dengan aksi sefihak atau aksef. Gerakan petani mendapat pengaruh dari organisasi politik. Sedikit petani yang menyadari bahwa tindakannya ini juga mendapat pengaruh dari BTI. Akan tetapi tidak semua pelaku gerakan adalah anggota BTI.
Kelebihan:
1. Menjelaskan keadaan umum masyarakat Klaten termasuk stratifikasi sosial dalam masyarakatnya
2.      Menjelaskan tentang penguasaan tanah
3.      Menjelaskan kehadiran landform di indonesia dan pelaksanaannya di daerah Klaten
4.      Menjelaskan gerakan protes petani di daerah Klaten
Kekurangan:
1.      Tidak menjelaskan gerakan protes petani di Klaten secara rinci pada tahun 1959-1960
2.   Lebih membahas penguasaan tanah secara umum bukan dikhususkan kepada daerah Klaten.


           



Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUME MATERI SEJARAH SOSIAL