SEJARAH SOSIAL: TEORI-TEORI SOSIAL
TEORI-TEORI
SOSIAL
1. Wanita
dalam sistem sosial
Membicarakan wanita dalam sistem sosial, sebagian besar dari
kita akan segera mengasosiasikan dengan Raden Ajeng Kartini. Karena Kartini
berjuang dalam situasi yng sulit, tekanan feodalisme, dan konservatifme
pemikiran masyarakat ningrat dimana posisi wanita sebagai konco wingking (teman belakang) dalam arti subordinat. Pada masa itu,
wanita dibedakan karena gender. Lelaki memiliki hak yang lebih daripada
perempuan. Wanita hanya boleh di rumah saja, sedangkan lelaki boleh bersekolah.
Karena anggapan orang tua dulu bahwa wanita tugasnya hanya masak, macak
(berhias) dan manak (melahirkan). Wanita tidak diberi kebebasan dalam
bertindak. Mereka terhalang oleh adat-istiadat setempat.
Akan tetapi peran wanita sekarang tidak terbatas. Adanya
kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan membuat wanita bergerak bebas
mau bekerja di sektor apa saja. Pengaruh kuat wanita dalam duni fashion di
kalangan anak muda merupakan satu contoh nyata yang kuat. Perkembangan
teknologi informasi memberi ruang bagi wanita untuk mengambil peran. Misalnya endorsment barang sampai menjadi
pengusaha.
Dalam tulisan Soedarmono yang berjudul munculnya kelompok
pengusaha batik di laweyan pada abad xx menuliskan bahwa wanita mempunyai
kedudukan tertingggi sebagai pengusaha batik. Peran lelaki hanya sekedar
mebantu istri apabila diperlukan seperti mengangkat barang yang berat atau yang
lainnya.
Pada masyarakat modern, wanita juga sebagai pengusaha
kosmetik dan busana. Kebanyaakan pengusaha kosmetik dan busan dimiliki oleh kaum wanita. Tetapi
tidak jarang juga pria menyukai bidang ini. Contohnya Ivan Gunawan yang menjadi
desainer terkenal di indonesia. Di zama sekarang juga terdapat wedding orgnizer yang sebagian besar
digerakkan oleh kaum wanita. Disinilah peran wanita dalam mempengaruhi dan
menggerakkan suatu sistem sosial dapat dilihat secara lebih saksama.
2. Korupsi
Korupsi merupakan penyakit negara yang sifatnya
kompleks. Berbagai studi telah berusaha merunut asal muasal korupsi di
indonesia. Dan masing-masing menghasilkan pendapat yang beragam. Korupsi telah
menjadi musuh bersama semua pemerintah, meskipun pada saat yang sama korupsi
juga bertumbuh selama masih ada peluang untuk bertindak korup. Indonesia menghadapi
masalah korupsi begitu masif sehingga pemerintah perlu mengaktifkan lembaga
khusus antirasuah, Komisi Pemberantas Korupsi (KPK).
Korupsi di indonesia telah mendarah daging. Banyak
pejabat negaara yang melakukan korupsi. Meskipun telah mengetahui bahwa korupsi
perbuatan yang tercela dan dilarang oleh agama, mereka tetap melakukaknnya. Mereka
merasa tidak malu memakan uang rakyat. Para koruptor melakukan korupsi karena
tergiur akan uang,jabatan aataupun yang lainnya. Sehingga mereka tidak
mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan dari perbuatannya itu.
Tugas sejarawan tidak hanya menyampaikan besaran
korupsi, larinya uang negara untuk belanja si koruptor, atau nilai suap oleh
penguasa tertentu. Sejarawan harus menyoroti situasi sosial dimana suatu kasus
korupsi timbul (atau memungkinkan untuk timbul), bagaimana masyarakat
memandangnya, serta aspek-aspek sosial lain yang mungkin secara unik dapat
ditemukan di satu kasus yang spesifik. Artinya ada suasana atau prakondisi
sosial yang memungkinkan korupsi terjadi.
3. Gerakan
sosial
Kajin
tentang gerakan sosial sempat mengalami masa-masa dimana sejarawan kurang
menaruh minat. Hal ini disebabkan oleh kuatnya pengaruh historiografi
Neerlandosentris dalam sejarah indonesia. Akibatnya, apa yang menjadi gerakan
sosial bagi bangsa indonesia ditafsirkan sebagai suatu bentuk perlawanan atau
pemberontakan di mata sejarawan kolonial.
Kajian
sejarah tentang gerakaan sosial tidak bertujuan mengungkapkan
peristiwa-peristiwa dengan lingkup luas atau berskala besar, namun lebih
memperhatikan perluasan scope dari permasalahannya. Sejarawan lebih memusatkan
perhatian pada sebab-akibat gerakan sosial tersebut.
Gerakan
sosial di indonesia menunjuk adanya beberapa mkategori:
1. Perbanditan
Sosial
Gerakan ini
mencakup perampoka, pe-ngecu-an, penyamunan, pada intinya kegiatan yang
bertentangan dengan pihak yang berkuasa atau tata tertib masyarakat.
2. Gerakan
protes keadaan atau peraturan yang tidak adil
Gerakan ini
dilakukan oleh orang-orang yang tidak tahan dengn keadaan yang dirasa tidak
adil bagi mereka. Sehingga orang-orang tersebut menuntut pada pihak yang
berkuasa agar keadaannya menjadi lebih baik.
3. Gerakan
yang bersifat revivalistik
Gerakan ini
bertujuan agar rakyat lebih rajin menjalankan kewajiban agamanya.
4. Gerakan
yang bercoraak nativistik
Gerakan ini
bertujuan untuk menegakkan kembali kerajaan kuno.
5. Gerakan
mesianisme
Gerakan ini
mengharapkan kehadiraan ratu adil atau imam mahdi.
6. Gerakan
yang dijiwai semangat perang sabil
Perang
sabil mempunyai arti yaitu perang suci membela agama.
4. Protes
sosial
Gerakan protes sosial di pedesaan-pedesaan jawa antara abad
ke-19 sampai abad ke-20 menggeliat dalam berbagai bentuk, mulai huru-hara
sampai dengan aksi perbanditan dimana dalam gerakan-gerakan tersebut dapat
digolongkan dalam katregori-kategori tertentu.
Aspek-aspek gerakan sosial merupakan suatu bentuk perlawanan
dari struktur sosial-politik-ekonomi di pedesaan jawa. Contohnya peran priyayi
dan kyai. Priyayi yang merupakan kepanjangan tangan pemerintah kolonial
sehingga mmpunyai hubungan baik dengan para kolonial. Para kionial mendekati
para priyayi untuk mempermudah mereka untuk menguasai rakyat. Sedangkan kyai
berada di pihak rakyat. Para kyai menjadi penggerak dari gerkan protes sosial
yang terjadi.
Protes sosial dalam konteks kontemporer yaitu kasus protes
petani terhadap industrialisasi. Para petani memprotes adanya industrialisasi
di daerahnya karena merugikan para petani. Adanya industri merusak alam
sehingga merugikan para petani contohnya irigasi menjadi terganggu, adanya
pencemaran lingkungan dan sebagainya. Sehingga para petani menolak adanya
industrilisasi di daerahnya dengan melakukan protes.
Komentar
Posting Komentar