REVIEW BUKU “METODOLOGI SEJARAH”
Karya
Kuntowijoyo
A.
SEJARAH PEDESAAN
Sejarah
pedesaan merupakan bidang ilmu sejarah yang mulai mendapat perhatian dari
sejarawan. Tumbuhnya perhatian terhadap sejarah pedesaan karena terdorong oleh
rasa tidak puas dengan metode sejarah yang umum berlaku serta oleh kebutuhan
untuk menanyakan soal-soal baru. Para sejarawan tertarik meneliti tentang
golongan atas, pembuat undang-undang, dan perpolitikan. Sejarah pedesaan
merupakan bagian dari sejarah sosial yang mencakup seluruh masyarakat sebagai
kesatuan serta segala aspek kehidupannya. Bidang sejarah pedesaan di berbagai
negeri Eropa Barat mengungkapkan gambaran serta pengertian baru tentang kondisi
kehidupan pedesaan di masa lampau, antara lain: tentang hubungan antar tuan
tanah dan petani penggarap, kedudukan bangsawan di pedesaan, pungutan-pungutan,
soal-soal demografis seperti tingginya mortalitas, naik-turunnya harga-harga
dan seterusnya.
Sejarah pedesaan dekat dengan bidang
garapan sejarah lokal dan sejarah sosial. Ketiganya saling berbaur dalam
pengertian, satuan penelitian dan permasalahannya. Akan tetapi dari ketiga ilmu
tersebut memiliki perbedaan jika kita kaji secara mendalam. Sejarah pedesaan
adalah sejarah yang secara khusus meneliti tentang desa atau pedesaan,
masyarakat petani, dan ekonomi pertanian. Desa sebagai kesatuan teritorial dan administratif
yang terkecil di Indonesia sudah banyak mendapat perhatian dari para peneliti
di luar ilmu sejarah. Dengan melihat perubahan dari sudut pandang sejarah,
seperti perkembangan demografi, laju
proses monetisasi, laju proses proletarianisasi, sejarawan pengamat pedesaan
kiranya akan memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai prospek
pembangunan pedesaan.
Sejarah pedesaan memiliki garapan
masyarakat petani. Untuk membedakan sejarah pedesaan yang menggarap masyarakat
petani dengan sejarah sosial, sejarah pedesaan harus selalu dapat mengembalikan
permasalahan sejarah kepada desa dan pedesaan, atau kepada ekonomi agraria
pedesaan. Contohnya buku Sartono Kartodirdjo, Peasant Revolt Of Banten in 1888, merupakan sejarah sosial daripada
sejarah pedesaan, sebab jangkauan garapannya meliputi juga masalah politik
kolonial, hal yang termasuk dalam lingkup supra-desa. Ekonomi agraris tentu
saja menjadi bagian dari sejarah pedesaan. Perubahan-perubahan yang terjadi di
desa dan di masyarakat petani biasanya menyangkut perubahan ekonomi dari sebuah
ekonomi subsistence ke ekonomi exchange. Sepanjang exchnge economy itu mempengaruhi desa
dan petani, sejarah pedesaan dapat pula menjadikannya sebagai bidang garapan,
tentu saja dengan penekanan kepada lingkungan desa dan petani.
Pedesaan sebagai bidang penelitian
dapat dimasukkan dalam satuan tertentu antara lain: 1) ekosistem, 2) geografis,
3) ekonomis dan 4) budaya. Satuan ekosistem adalah hasil perpaduan antara
aktivitas manusia, keadaan biologis dan proses fisik. Ekosistem di indonesia
terbagi menjadi 2 menurut Cliffort Geertz yaitu ekosistem ladang di indonesia
lur dan ekosistem sawah di indonesia dalam. Satuan geografis terdapat berbagai
macam hubungan antar pedesaan. Satuan geografis seperti perbukitan, daerah
aliran sungai, pantai, teluk, selat dan pedalaman desa-desa memiliki hubungan
tertentu satu dengan lainnya. Dalam hubungan dengan persoalan adat, satuan
penelitian pedesaan dapat berupa daerah hukum adat atau suatu cultural area. Di
Indonesia, setidaknya kita mengenal 19 hukum adat, seperti yang dikemukakan
oleh C. Van Vollenhoven. Masing-masing daerah hukum adat mempunyai sistem
sosio-ekonomi dan budaya tersendiri.
Desa sebagai kesatuan sosial,
teritorial, dan administratif per se
juga belum diteliti secara khusus. Perang desa, sistem pemerintahan desa,
sistem sosial desa, sistem keamanan desa, pasar desa, semuanya dapat diteliti
lewat hasil-hasil sastra tradisional, aturan-aturan (seperti pada angger),
tradisi lisan, serta laporan-laporan lain. Lembaga-lembaga desa yang berupa
pola hubungan sosial dan organisasi-organisasi sosial merupakan tema yang kaya
untuk dijadikan kajian. Termasuk disini lembaga pemerintah, keagamaan, politik,
ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Hubungan sosial di
pedesaan juga akan kaya tema penelitian. Di antaranya ilah masalah stratifikasi
sosial, integrasi konflik, mobilitas sosial, migrasii, dan hubungan desa
kota.
B.
EKONOMI PEDESAAN
Sejarah
ekonomi masih merupakan daerah yang relatif asing bagi sejarawan Indonesia,
sekalipun sejarah ekonomi diajarkan di jurusan –jurusan sejarah. Di
negeri-negeri Barat sendiri sejarah ekonomi juga merupakan disiplin yang
relatif baru. Meskipun sejarah ekonomi sudah ditulis orang jauh sebelumnya,
tetapi chair untuk sejarah ekonomi
yang pertama di dunia baru ada di Harvard pada tahun 1892, dan chair serupa di Inggris baru ada pda
tahun 1910. Meskipun akhir-akhir ini ada minat kembali untuk mempelajari
sejarah ekonomi dari sudut pandang ekonomi politik, terutama di negara-negara
sedang berkembang seperti Indonesia,
kiranya masih perlu diperlukan sejarah ekonomi yang lebih konvensional.
Untuk
sejarah ekonomi pedesaan, batasan-batasan itu tentu saja harus diletakkan dalam
lingkungan ekonomi pedesaan, atau ekonomi petani. Ekonomi pedesaan dan ekonomi
petani tidak selalu searti, namun dalam tulisan ini, keduanya dipersmakan dan
dapat ditukarkan peristilahannya khusus untuk seminar sejarah lokal dengan
cakupan dinamika pedesaan ini. Ciri-ciri ekonomi petani sebagaimana dikemukakan
Daniel Thorner, seorang antropolog yang menganggap ekonomi petani sebagai
sebuah kategori dalam sejarah ekonomi, ialah:
1. Dalam
bidang produksi, masyarakat terlibat dalam produksi agraria.
2. Penduduk
harus lebih dari separohnya terlibat dlam pertanian.
3. Ada
kekuasaan negara dan lapisan penguasa.
4. Ada
pemisah antara desa dengan kota, jadi ada kota-kota yang latar belakang
desa-desa.
5. Satuan
produksinya ialah keluarga rumah tangga petani.
Ekonomi
petani diusulkan sebagai sebuah kategori tersendiri dalam sejarah ekonomi
dengan maksud untuk memenuhi kekurangan dalam analisa tentang perkembangan
ekonomi, terutama dalam kalangan ilmuwan Marxis yang hanya melihat urusan
sejarah itu sebagai cara produksi perbudakan, feodalisme, kapitalisme, dan
sosialisme. Perbedaan ekonomi petani dengan ekonomi kapitalis, menurut Basile
Kerblay, yang juga menurut Chayanov ialah jika ekonomi kapitalis tanah dan
kerja merupakan variabel atau faktor yang oleh penguasa dikombinasikan untuk
memperoleh perolehan yang maksimum dari kapital dianggap sebagai faktor yang
tetap, sedangkan dalam ekonomi petani kerjalah yang merupakan elemen yang tetap
menentukan perubahan dalam volume dari modal dan tanah. ekonomi kapitalis
berdasarkan pada modal, ekonomi petani berdasarkan pada kerja. Di lingkungan
petani, perluasan tenaga kerja keluarga, seperti tampak dalam banyak jumlah
anak-anak, dianggap sebagai faktor yang menguntungkan dan merupakan investasi.
Permasalahan ekonomi pedesaan atau ekonomi
petani tentu tidak sama dengan ekonomi kota atau ekonomi industrial. Ekonomi
pedesaan memasukkan juga ekonomi primitif sekaligus ekonomi petani, yang
kedua-duanya masih terdapat dalam masyarakat dengan kerangka ekonomi pasar sekarang.
Faktor-faktor ekonomi pedesaan meliputi tanah, kerja, kapital upah, harga dan
sewa. Peranan dari masing-masing faktor itu berbeda dalam berbagai tipe
ekonomi. Sektor ekonomi yng dikenal dalam ekonomi pedesaan tentu saja yang
berhubungan dengan pertanian, perdagangan, peternakan dan industri rumah
tangga. Problem-problem ekonomi seperti paceklik, turun-naiknya harga,
kepadatan penduduk, migrasi, terutama yang menyangkut sebuah lokalitas belum
mendapat perhatian juga. Sejarah ekonomi lebih banyak memerlukan penggunaan
teori, model, dan konsep-konsep ilmu sosial, termasuk ilmu ekonomi sendiri.
Aktivitas ekonomi masih tetap merupakan aktivitas manusia, sehingga sejarah
ekonomi pun tidak lepas dari setting sosial dari pengalaman manusia dan
imajinasi manusia.
Sejarawan
yang sanggup mengangkat diri dari tingkat mikro ke pemahaman masalah ekonomi
makro tidak akan menjadi sekedar antikuarianisme. Pengangkatan diri “keatas”
ini dapat dikerjakan melalui tiga cara yaitu pertama, sejarah yang sifatnya
lokal dapat diangkat menjadi sejarah yang nasional, dengan menjadikan lokalitas
sebagai bagian dari keseluruhan sistem ekonomi nasional. Kedua, sejarah yng
membicarakan masalah-masalah khusus, seperti misalnya sebuah komoditi tertentu,
dapat diangkat sebagai bagian dari keseluruhan sistem ekonomi. Ketiga, mengangkat sejarah kearah pembentukan teori,
hitungan terakhir sejarah ekonomi merupakan bagian dari sejarah.
Adanya
teori sosial dapat menunjukkan kepada sejarawan apa yang harus dicari, demikian
pula sejarawan tidak dapat memenuhi sepenuhnya informasi apa yang diperlukan
oleh teori sosial secara pasti. Dengan mengetahui pertumbuhan sejarah ekonomi
di satu masa, ahli ekonomi dapat melihat waktu kontemporer dalam sebuah
kerangka masa depan yang panjang, dan dapat mengeluarkan ahli ekonomi dari
semata-mata pemecahan masalah ekonomi jangka pendek.
Komentar
Posting Komentar