SARASEHAN LINTAS GENERASI " Meneladani Para Pejuang untuk Memajukan Unversitas Jember"

1. Dr. Ahmad

Ahmad dan Teudosius Sungedi yang menjadi kepala SMPK yang sekarang di Jalan Gajah Mada didepan BTA mempunyai cita-cita untuk menyempurnakan pendidikan pada masyarakat Jember khususnya, karena keprihatinan masyarakat yang hanya mengenyam pendidikan SMA saja sehingga timbul pengangguran dimana-mana. Penyempurnaan pendidikan tidak hanya di kota-kota besar tetapi di tiap kota apalagi di daerah Jember yang tergabung di daetah Karisidenan Besuki. Keinginan ini diimbangi kerja keras, tekad yang bulat dan komunikasi dengan penguasa daerah dan masyarakat Jember membuahkan hasil yang postif. Bupati Jember yaitu R. Sujarwo, ayahanda Bapak Widodo sgt mendukung ide tersebut. Mereka saling bahu membahu untuk mendirikan Universitas Jember. Dan tersebut dari gotong royong maupun dana mandiri demi terwujudnya ide tersebut. Perjuangan Dr. Ahmad dan penguasa derah patut menjadi teladan.

2. Raden Sudjarwo

Raden Sudjarwo merupakan Bupati Jember pada masa itu. Raden Sudjarwo merupakan nasionalis yang religius. Beliau merupakan putra asli di jalan Trunojoyo 14 Jember pada tanggal 16 September 1917 putra dari Mohamad Ali Mertowijoyo yang merupakan seorang guru, bersekolah pada zaman Hindia Belanda. Kemudian bekerja sebagai Pamong praja dengan 2 periode yaitu Periode Hindia Belanda (1936-1945) dan Periode Kemerdekaan (1945-1967) kariernya sebagai mantri polisi di salah satu kecamatan, jadi Camat dan wedana di wilayah eks karesidenan Madiun dan Kediri.

Pada masa perang kemerdekaan kelas ke 1 dan ke 2 dari tahun 1947-1949 R Soedjarwo bertindak sebagai komandan staf pertahanan Rakyat (SPR) di daerah kandangan dan papar Kediri dan ikut bertempur melawan Belanda, dan atas perjuangan ini Raden Soedjarwo diangkat sebagai Kapten Tituler  dan tanda jasa gemilau dalam perang kemerdekaan. Kemudian Raden Soedjarwo menjadi wakil bupati di Sampang tahun 1950 kemudian tahun 1952 sampai 1954 Raden Soedjarwo diangkat sebagai bupati Pontianak, tahun 1955-1956 dipindah tugaskan menjadi Bupati Pamekasan. Tahun 1957 dipindah tugaskan lagi sebagai Bupati Bondowoso selama 6 bulan dan kembali dipindah tugaskan lagi sebagai PLT Bupati Jember. Pada th 1958 ikut mencalonkan sebagai Bupati Jember melalui dprd dan mengalahakan rivalnya yaitu ahmad sidiq.  Dengan program kerja untuk memajukan sumber daya manusia di Jember dengan membangun Sekolah dasar, Menengah dan perguruan tinggi, namun terbatas pada dana APBD pemerintah daerah, maka pada tanggal 10 November 1957 membentuk yayasan pendidikan kabupaten Jember untuk menghimpun sumbangan-sumbangan dana dari masyarakat. Yaitu dari retribusi penjualan karcis, bahan bakar dan gula. Ide yang unik dari pemikiran Raden Soedjarwo yaitu mengumpulkan barang-barang bekas seperti koran bekas, botol bekas, kelapa dari seluruh masyarakat jember di belakang pendopo untuk dijual untuk kegiatan pembangunan sekolah di Jember, sehingga Soedjarwo dikenal sebagai Bupati Botol Kosong.

Pada tanggal 4 November 1957, tokoh masyarakat Dr. Achmad , Raden Soengedi,  Raden Soerachman yang dikenal sebagai Triumviraat mendirikan Universitas Swasta Tawang alun (UNITA) dengan Yayasan Universitas Tawang Alun yang didirikan pada tanggal 5 Oktober 1957. Fakultas yang dibuka pada waktu itu adalah Fakultas Hukum, dengan tempat kuliah masih menumpang di Gedung GNI di jalan Trunojoyo dan gedung salah satu SMPK di Jalan Gadjah Mada. Pembangunan ini mendapat sambutan yang baik dari Raden Soedjarwo dan memberikan dana YPKD. Pada tanggal 18 Agustus 1958 YPKD mulai membangun gedung kampus UNITA di Jalan Mohammad Seruji (Patrang).

Tahun 1959 tuntukan kepada UNITA agar terus berkembang, maka atas permintaan dari masyarakat UNITA maka pada tanggal 26 Januari 1959 Raden Soedjarwo diangkat sebagai ketua yayasan UNITA menggantikan Sunedi. Beliau memiliki tugas yang berat untuk UNITA.  Dengan 4 serangkai yaitu Dr. Achmad , Raden Soengedi,  Raden Soerachman, dan raden Soedjarwo disebut sebagai bapak pendiri Universitas Jember.

Sejak tahun 1960 UNITA mulai berkembang yang diikuti dengan penambahan fakultas seperti Fakultas Ilmu sosial dan politik (FISIP), FKIP, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Pertanian. Fakultas Kedokteran hanya bertahan selama dua tahun dan kemudian ditutup karena kurang diminati dan memindahkan Mahasiswa tersebut ke Universitas Airlangga dan Universitas Diponegoro. UNITA juga merintis hubungan dengan luar negeri seperti USAID, Amerika Serikat, sehingga membantu membuat fasilitas dan praktikum. Mengenai lokasi kampus sebenarnya sudah direncanakan sejak 1961 yang berada di Tegal Boto. Daerah tegal boto pada tahun 1961 masih daerah yang terisolasi dan belum bisa terjangkau oleh Transportasi darat, dan daerah ini masih berupa hutan, sawah dan konon sebagai sarang penyamun di Jember. Untuk itu R. Soedjarwo merintis untuk membuat jembatan antara jalan Mohammad seruji dengan jalan mastrip yang dimulai pada tanggal 1 juli 1961 dan dikenal sebagai jembatan jarwo.

Pengerian secara akitif baru dimulai Pada tahun 1961, Raden Soedjarwo membentuk beberapa tim delegasi untuk menghadap menteri PTIP di Jakarta. Penegerian ini tidak terlepas dari hubungan politis dengan PTIP pada waktu itu. Ketua tim pertama bapak suwarno sutopamengkas  ketua pni jember, ketua tim kedua yaitu bapak dr. Ahmad dan ketua tim ketiga Sudjarwo. Menteri PTIP pada waktu itu adalah Prof. Mr Koesoema Soemantri dan menghendaki adanya panitia bersama antara UNITA dan UNIBRAW yang disebut sebagai panitia 7. Dia sempat datang ke Jember pada tanggal 8 Desember 1961. Waktu itu belum ada kepastian mengenai UNITA, menteri menginginkan agar UNITA bergabung menjadi satu dengan UNIBRAW. Pihak jakarta tidak mengehndaki di Jember berdiri 3 universitas negeri yaitu Airlangga, Unibraw dan Jember. Dalam perkembangannya keluarlah SK Menteri No. 21 tahun 1962 mengenai pembentukan panitia Universitas negeri Jember yang terdiri dari Raden Soedjarwo sebagai ketua, dr. Ahmad, Suwarno Sutopamengkas, Mohammad Ali Yasin dan Joko Suroso.  Dengan SK menteri PTIP nomor 1 tahun 1963 UNITA diresmikan menjadi Universitas Negeri Cabang UNIBRAW dan belum berdiri sendiri. Keputusan ini menjadi tonggak sejarah lahirnya universitas negeri di Jember walaupun belum sepenuhnya menggembirakan karena bagian UNIBRAW.

Beberapa langkah ditempuh untuk penegerian UNITA, Sudjarwo dengan dukungan DPRD melakukan pendekatan politik secara nasional dengan mengahdirkan bapak Dr. Ruslan Abdul Ghani ke Jember dan meugaskan Bapak Suwarno sutopamengkas didampingi Bapak Iwa Kusuma Sumantri untuk menemui bapak Ahli Sastro Amidjoyo di Jakarta. Perjuangan tersebut berhasil dengan penegerian UNITA menjdi Universitas Jember dengan berdasarkan SK menteri PTIP  151 tahun 1964 tanggal 9 November 1964 yang dikenal dengan hari lahirnya Universitas Jember.

Pada akhir tahun 1964 Bupati R. Soedjarwo berakhir dan dipindahkan ke Pamekasan, sebagai pembantu gubernur, dan ditarik ke Jakarta sebagai kepala biro tata kelola kota, dan pensiun pada tahun 1967. Tahun 1968 kembali ke Jember dan menjalani kehidupan sebagai pensiunan namun tetap aktif sebagai wiraswasta.

3. Letkol Soengedi

Bersekolah di taman siswa, taman madya dan taman guru sehingga menjadi guru ditugaskan di malang. Bergabung dengan peta. Menjabat sebagai komandm garnisum di malam 1950-1958. 1959/1960 menjadi perwira di jember untuk mengambil perkebunan. Dan diberi rumah di jalan diponegoro. Menjadi direktur perkebunan di ptp sampai berakhirnya pada tahun 1970. Menjadi rektor, selalu memperhatikan fakultas pertanian. .

4. Sutardjo

Sutardjo ingin menyatukan unej menjadi satu lokasi. Sutardjo menemui bupati, Abdul Hadi, untuk meminta wilayah agar kampus unej menjadi satu lokasi yaitu di lokasi Tegal Boto atas saran Bupati Jember. Sutardjo selalu mengutamakan pekerjaan. Sutardjo menjadi orang nomor satu dalam riwayat hidupnya. Tahun 1970, program KKN diberlakukan. Sutardjo sering mendatangkan aktivis Universitas Jember untuk hadir di rumah. Saat wafat, banyak mahasiswa UNEJ yang mengantarkan jenazah beliau.

5. Drs. Raden Warsito

Warsito berwawasan luas tentang pendidikan. Saat aktif menjadi tentara, anak-anaknya dan sanak saudaranya, Warsito mengimbau untuk melanjutkan sekolah terus menerus. Warsito terakhir menjabat komandam korem 081 Madiun sebagai kolonel kemudian purna bakti. Warsito melanjutkan sekolah mendapat sarjana muda di sosial politik Universitas Merdeka Malang. Kemudian mendapat kepercayan untuk menjadi dosen keperwiraan yang berkeliling ke berbagai universitas termasuk Universitas Jember. Warsito menempuh pendidikan sosial politik di Universitas Jember. Warsito menjabat sebagai rektor dengan dua kali masa jabatan. Warsito mempercepat realisasi kampus Tegal Boto pada masa itu. Selain fakultas teknik dan pertanian, Warsito juga memicu untuk fakultas-fakultas yang lain seperti kedokteran gigi. Kemajuan Universitas Jember mulai dikenal dengan perintis tiga. Warsito merintis untuk usulan pembangunan bandara dengan pemerintah daerah.  

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI BUKU: LANDFORM DAN GERAKAN PROTES PETANI DI KLATEN 1959-1965

RESUME MATERI SEJARAH SOSIAL